CILEGON, EKBISBANTEN.COM – Ribuan warga Kota Cilegon memadati Alun-Alun Kota Cilegon dalam acara Istighosah Akbar memperingati 10 Muharram 1447 H yang dirangkaikan dengan Haul Syuhada Geger Cilegon 1888, Rabu malam (9/7).
Kegiatan penuh makna itu juga diisi dengan pemberian bantuan sosial kepada anak-anak yatim, sebagai bentuk kepedulian bersama terhadap sesama.
Acara yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Cilegon tersebut berlangsung khidmat dan menyentuh. Lantunan zikir dan doa bersama menggema sejak sore hari hingga malam, menghadirkan suasana religius dan haru di tengah masyarakat.
Dalam sambutannya, Wali Kota Cilegon, Robinsar, menyampaikan rasa hormat dan terima kasih kepada seluruh tokoh agama, masyarakat, dan tamu undangan yang hadir.
“Kehadiran kita semua adalah bentuk kecintaan terhadap perjuangan para ulama serta kepedulian kepada anak-anak yatim yang membutuhkan kasih sayang dan perhatian kita,” kata Robinsar.
Ia menegaskan bahwa peringatan Haul Geger Cilegon bukan sekadar ritual tahunan, tetapi juga pengingat sejarah perjuangan ulama dan masyarakat Banten dalam menentang penjajahan kolonial.
“Para syuhada dalam peristiwa Geger Cilegon 1888 bukan hanya berjuang dengan senjata, tetapi juga dengan keimanan dan keikhlasan. Ini adalah warisan nilai yang harus terus kita jaga dan wariskan,” tambahnya.
Robinsar juga menyampaikan komitmen Pemerintah Kota Cilegon dalam mendukung dan memuliakan anak-anak yatim melalui program bantuan sosial dan kegiatan kemanusiaan lainnya.
“Mari kita terus memuliakan anak yatim, tidak hanya lewat bantuan materi, tapi juga dengan kasih sayang, perhatian, dan doa. Semoga ini menjadi jalan turunnya keberkahan bagi Kota Cilegon,” ujarnya.
Sementara itu, KH Ahmad Muwaqif atau Gus Muwaqif, dalam ceramah agamanya menyampaikan dua pesan utama: pentingnya meneladani semangat hijrah Rasulullah SAW serta perjuangan para syuhada Geger Cilegon.
“Hijrah adalah transformasi diri menuju kebaikan. Begitu pula perjuangan syuhada Geger Cilegon yang dengan gigih melawan ketidakadilan demi membela agama dan bangsa,” ucapnya.
Ia juga menyinggung makna bulan Muharram sebagai bulan penuh peristiwa besar dan refleksi spiritual, termasuk syahidnya cucu Nabi Muhammad SAW, Sayyidina Husain, yang relevan dengan nilai-nilai perjuangan para ulama di Banten.
Acara yang berlangsung damai ini turut dihadiri oleh unsur Forkopimda, tokoh masyarakat, santri, pelajar, serta ribuan warga yang larut dalam suasana doa dan zikir bersama.
Selain mengenang sejarah, kegiatan ini menjadi momen silaturahmi, penguatan spiritual, dan pemersatu umat.*